3 Tower Apartemen PP Properti di Surabaya Diborong Habis Sebelum Launching

2
PP Properti Surabaya - penandatanganan-arvada

PP Properti optimis target penjualan sebesar Rp3,8 triliun dan laba bersih Rp528 miliar pada tahun ini akan tercapai.

PT PP Properti Tbk (PPRO) untuk kesekian kalinya, melakukan transaksi besar (bulk selling) atas produk- produknya.

Kali ini 3 tower apartemen di 3 proyek berbeda di Surabaya, Jawa Timur terjual habis sebelum diluncurkan. Ketiga apartemen tersebut, yakni Grand Shamaya tower 2, Grand Dharmahusada tower 2 dan Grand Sungkono Lagoon tower 4, dengan total nilai mencapai Rp2,1 trilliun.

Baca Juga:

Sebagai informasi, Grand Shamaya dibangun di atas area seluas 1,6 ha dan berlokasi di segitiga emas pusat kota Surabaya. Proyek ini hadir dengan konsep Luxury Resort dan dilengkapi dengan fasilitas berstandar internasional.

Grand Shamaya direncanakan terdiri dari 4 tower. Beberapa tipe apartemen sedang dipasarkan, seperti 1 BR, 2 BR, dan 3 BR dengan harga mulai Rp1,6-4,7 miliar.

Sedangkan Grand Dharmahusada Lagoon dibangun di lahan 4,2 ha di lokasi premium Surabaya Timur. Proyek superblok ini mengusung taglinewhere people live in happiness”. Unsur alam diwakili natural garden dan lagoon yang menghabiskan sepertiga dari total lahan.




Adapun Grand Sungkono Lagoon juga merupakan proyek superblok di kawasan elite barat Surabaya. Ini merupakan proyek pertama PP di Surabaya yang diluncurkan 2013 silam. Proyek bersertifikat green building ini dibangun di lahan 3,5 ha yang direncanakan sebanyak 5 tower.

Tower pertama, Venetian terjual habis di tahun pertama dan saat ini sudah dihuni. Sementara tower kedua Caspian dibangun persis di atas mall yang juga sudah sold out dan ditargetkan akan tutup atap di akhir tahun ini. Saat ini dipasarkan unit 1 BR hingga 3 BR dengan harga di atas Rp1 miliar.

“Ini merupakan bukti kepercayaan pasar terhadap produk-produk PPRO yang berkualitas tinggi, strategis lokasinya dan time delivery yang terpercaya,” ujar Direktur Utama PPRO, Taufik Hidayat melalui keterangannya, beberapa hari lalu.

Perjanjian jual beli antara Pembeli dengan PPRO telah dilaksanakan pada akhir bulan Maret. Sedangkan financial closing ditandatangani pada tanggal 13 Mei 2018.

“Penjualan dengan mitra strategis seperti ini merupakan salah satu cara menggenjot penjualan. Saat ini juga ada beberapa transaksi bulk selling yang sedang dalam proses,” kata Taufik.

Transaksi bulk selling ini, lanjutnya, membuat pencapaian target penjualan PPRO sebesar Rp3,8 triliun dan laba bersih Rp528 miliar tahun ini menjadi lebih optimis.

“Dengan adanya bulk selling tersebut, disamping merupakan akselerasi penjualan juga memperkuat arus kas yang sekaligus meningkatkan kualitas neraca Perseroan” pungkas Taufik.