Jakarta Banjir, Warga Jangan Panik, Terus Anies Baswedan Ngapain?

0
146
jakarta banjir
Banjir, sampah dan macet (BSM) menjadi problem sosial warga Jakarta yang berkelanjutan. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan wajib mengantisipasi dan mencarikan solusi terbaik terhadap BSM yang sudah menjadi masalah Jakarta sepanjang zaman. (foto: istimewa)

Warga Jakarta jangan panik, bila Jakarta banjir lagi, baik karena volume hujan yang tinggi atau disebabkan oleh banjir bandang kiriman dari Kota Bogor, Jawa Barat. Lantas, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ngapain aja sih sebelum banjir atau ketika musim hujan tiba di Jakarta?

Baca Juga: Banjir Properti di Kepala Naga, Kelapa Gading

Dalam dua minggu terakhir ini, Kota Jakarta memang terus diguyur hujan dan mendapat ‘paket’ banjir kiriman dari Bogor. Setahu saya, persoalan banjir, sampah dan macet (BSM) membuat semua yang pernah menjabat sebagai gubernur Betawi, pusing tujuh keliling.

BSM sudah menjadi problem sosial universal. Di negara-negara kawasan Afrika dan Asia, BSM bisa dipolitisir menjadi isu politik. Namun demikian, Anies Baswedan wajib mengantisipasi dan mencarikan solusi terbaik terhadap BSM yang sudah menjadi problem warga Jakarta sepanjang zaman.

Berbagai kajian ilmiah dan regulasi pemerintah dikeluarkan untuk mengatasi BSM. Namun, hasilnya masih belum maksimal. BSM tidak akan pernah lenyap selama masih ada kehidupan di alam semesta.

Baca Juga: PBB Bayar Lagi? Anies Baswedan Tak Peduli Warga Jakarta, Terlalu!

Banjir terjadi karena jaringan dan akses untuk air mengalir semakin kecil atau tersumbat sampah. Zona serapan air seperti sungai, selokan (got), tanaman dan hutan kota semakin terbatas, bahkan hilang. Pembangunan gedung-gedung perkantoran, apartemen, pusat perbelanjaan dan kompleks-kompleks perumahan mewah di wilayah perkotaan tidak lagi mempedulikan drainase.

Problema sampah di perkotaan tak kalah hebatnya dengan ‘serangan’ banjir. Iklan layanan masyarakat yang berbunyi ‘buanglah sampah pada tempatnya’ tidak berpengaruh sedikitpun terhadap berkurangnya volume sampah di Jakarta. Sebagian besar masyarakat masih tetap asyik saja membuang sampah seenaknya.

Masalah sosial lainnya yang juga menjadi ‘partner setia’ banjir dan sampah ialah kemacetan lalu lintas. Kemacetan lalu lintas tak akan pernah usai. Mengapa demikian? Volume kendaraan di jalan raya setiap hari terus meningkat. Sedangkan, kuantitas jalan raya tidak bertambah.

Baca Juga: Ibu Kota Indonesia Dipindahkan, Bagaimana dengan Bisnis Properti di Jakarta?

Belum lagi kualitas jalan yang banyak memakai aspal ‘abal-abal’ sehingga cepat rusak bila terendam air hujan. Faktor lain yang juga menjadi penyebab kemacetan lalu lintas ialah keterbatasan polisi lalu lintas, penempatan rambu-rambu lalu lintas yang tidak proporsional serta sebagian besar mentalitas pengendara dan oknum polantas (pungli) yang semakin bobrok. Keberadaan alat transportasi massal seperti LRT dan MRT serta Commuter Line, juga belum menjamin Jakarta akan bebas macet.

Bagaimana cara mengatasi BSM di perkotaan? Ada solusi sederhana yang bisa meminimalisir BSM. Tetapi, efeknya tidak langsung dan membutuhkan waktu panjang, yaitu:

Pertama, pembentukan mentalitas disiplin kepada anak-anak sekolah sejak usia dini. Para orang tua dan guru wajib mengedukasi dan memberi contoh kepada anak-anak tentang cara-cara menjaga kebersihan (membuang sampah pada tempatnya), disiplin berlalu lintas serta menginformasikan tentang pentingnya keberadaan saluran air dan hutan kota ketika akan membangun kota sebagai bentuk antisipasi terhadap tingginya volume air bila musim hujan.

Kedua, pemerintah harus bersungguh-sungguh menerapkan sanksi yang ada dalam regulasi menyangkut BSM dengan tegas, tanpa pandang bulu. Pemerintah juga wajib memberikan reward kepada masyarakat yang bersungguh-sungguh menjadikan Jakarta sebagai kota yang bebas BSM.

Baca Juga: Heboh Soal Banjir di Perumahan yang Diresmikan Jokowi, Ternyata Ini Faktanya!

Namun, disisi lain dalam konteks kemanusiaan, BSM justru mendatangkan rezeki bagi sebagian masyarakat. Contohnya ialah pedagang asongan yang beredar menjajakan dagangannya di tengah hiruk pikuk kemacetan lalu lintas. Disaat banjir, bermunculan ojek perahu karet, ojek payung, ojek gerobak dan jasa dorong mobil mogok. Sedangkan pemulung menjadikan sampah sebagai mata pencarian sehari-hari untuk menyambung hidup anak dan istrinya.

Salam seruput kopi pagi bro…

Leave a Reply