Sunday, April 11, 2021

Problem Tanah Helikopter, Antisipasi dan Solusi

Kalau sampai ada IMB berarti pihak pemerintah daerah yang mengeluarkan IMB teledor. Karena memberikan IMB di atas lahan fasos/fasum.

Oleh: Kris Banarto, MM, CPM (Asia), CPHRM

 

Adalah Eko Purnomo warga Kampung Sukagalih, Desa Pasir Jati, Kecamatan Ujung Berung, Kota Bandung, rumahnya terkepung oleh bangunan atau disebut “tanah helikopter” yang tidak mendapatkan akses jalan.

Praktis Eko tidak bisa keluar dan masuk rumah, akibat dari pembangunan rumah di depan dan samping rumahnya. Biasanya Eko menggunakan tanah itu untuk jalan keluar masuk rumah.

Tanah Eko seluas 76 meter persegi itu merupakan warisan dari orang tuanya dan sudah bersertifikat sejak 1998, setahun kemudian tanah tersebut ia bangun dan tidak ada masalah jalan karena depan rumah masih tanah kosong.

Namun tahun 2016 mulai timbul masalah ketika depan dan samping tanah Eko dibangun secara hampir bersamaan. Dengan demikian rumahnya terjepit oleh dua bangunan tersebut.

Sebelum pembangunan rumah dua tetangga itu, sebenarnya sudah ada mediasi dari RT tetapi tidak ada kesepakatan. Eko sempat menawar tanah untuk jalan sebesar Rp10 juta, namun pihak tetangga menolak karena nilainya terlalu kecil. Sementara uang Eko sebesar itu pun dari hasil meminjam.

Di lain pihak Eko juga berniat menjual rumah miliknya kepada dua tetangga itu, tetapi lagi-lagi tidak ada kesepakatan harga, karena menurutnya penawaran terlalu rendah.

Menurut Eko sesuai dengan denah yang ada tanahnya mempunyai akses jalan di sebelah kanan menuju gang yang sudah terlanjur dibangun oleh tetangga yang lain.

Pada 19 September 2018 ada titik terang dari permasalahan Eko, karena tetangga yang di bagian belakang memberikan dengan ikhlas akses jalan sepanjang 1 meter x 6 meter.

tanah helikopter di rumah eko bandung
Rumah Eko sudah mendapatkan akses 1 meter (Sumber Intisari online)

Walaupun demikian ia tidak puas dengan solusi itu dan berencana akan menempuh jalur hukum. Menuntut akses jalan yang sebenarnya sesuai dengan denah yang ada.

Dasar Hukum

Mencermati kasus tanah helikopter tersebut, bagaimana sih memahaminya dari sudut hukum? Berikut ini dasar hukumnya:

  1. Pasal 667 KUH Perdata:

“Pemilik sebidang tanah atau pekarangan, yang demikian terjepit letaknya antara tanah-tanah orang lain, sehingga ia tak mempunyai pintu keluar ke jalan atau parit umum, berhak menuntut kepada pemilik-pemilik pekarangan tetangganya supaya memberikan jalan kepadanya melalui pekarangan pemilik tetangga itu, dengan mengganti ganti rugi yang seimbang.”

  1. Pasal 668 KUH Perdata:

“Jalan keluar itu harus diadakan pada sisi pekarangan atau tanah yang terdekat dengan jalan atau parit umum, namun dalam suatu jurusan yang demikian sehingga menimbulkan kerugian yang sekecil-kecilnya, bagi pemilik tanah yang dilalui.”

Dari dua pasal Kitab Undang-undang Hukum Perdata tersebut jelas menyebutkan bahwa pemilik tanah yang terjepit itu :

  1. Berhak menuntut tetangga untuk membuka jalan
  2. Memberikan ganti rugi yang seimbang
  3. Tetangga yang memberikan jalan adalah yang terdekat dengan jalan/parit

Dasar hukum tersebut akan memberikan solusi bagi para pihak yang bersengketa, khususnya pemilik tanah yang terjepit. Sebenarnya permasalahan tersebut dapat dihindari jika pemilik tanah mengurus IMB sebelum membangun rumah dan berfungsinya petugas Wasbang (Pengawas Bangunan).

  1. IMB

IMB (Izin Mendirikan Bangunan) akan di keluarkan pihak pemerintah daerah setelah pemohon melengkapi sayat-syarat pengajuan IMB. Salah satu syaratnya adalah surat persetujuan tetangga, untuk bangunan berhimpit dengan batas persil.

Dalam kasus Eko Purnomo di atas, apakah tetangga yang menyerobot tanah fasos/fasum tersebut sudah memiliki IMB? Kalau sampai ada IMB berarti pihak pemerintah daerah yang mengeluarkan IMB teledor. Karena memberikan IMB di atas lahan fasos/fasum.

  1. Wasbang

Di dalam organisasi pemerintahan daerah ada bagian Wasbang (Pengawas Bangunan), mereka ini yang bertugas untuk mengawasi pembangunan apakah memiliki IMB atau tidak.

Apabila ditemukan warga yang membangun rumah tanpa memiliki IMB maka pemerintah daerah dapat menyegel bangunan bahkan membongkar bangunan tersebut. [Rujukan: grid.id, tribunnews.com, hukumonline.com]

 

Kris Banarto, MM, CPM (Asia), CPHRM, Praktisi Bisnis Properti dan Blogger.

BERITA TERKAIT

PROPERTI TV

BERITA TERBARU