Monday, March 8, 2021

Suplai Naik, Permintaan Turun, Bersiap Harga Properti Naik!

Rumah.com memprakirakan bahwa pada kuartal pertama 2021 ini, tren harga properti masih akan mengikuti siklus tren properti di mana pengembang akan kembali menaikkan harga properti.

PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Industri properti di Indonesia masih terpuruk dampak adanya pandemi Covid-19. Hal ini terlihat dari data indeks harga dan suplai properti sebagaimana dirilis dalam Rumah.com Indonesia Property Market Index Q1 2021 (RIPMI) yang disusun berdasarkan data harga, suplai dan pencarian properti sepanjang Q4 2020 serta dibandingkan dengan kuartal dan tahun sebelumnya.

Marine Novita, Country Manager Rumah.com menjelaskan bahwa data RIPMI menunjukkan terjadinya penurunan harga properti, kenaikan suplai, dan turunnya permintaan secara nasional pada Q4 2020 kemarin.

Baca Juga: Bedah Rumah di Papua, Kementerian PUPR Siapkan Rp11,97 Miliar

Menurut Marine, indeks properti pada Q4 2020 memang tidak terlihat menggembirakan. Namun, pelaku properti masih bisa merasa optimistis jika melihat dinamika RIPMI dari sisi siklus properti.

“Selain kondisi tersebut, tren properti di sejumlah wilayah favorit masih tetap terjaga. Jawa Barat dan Banten tetap menunjukkan kenaikan harga properti, terutama di Depok, Bekasi, Cikarang serta Tangerang. Hal lain yang dapat menjaga optimisme pasar properti di 2021 adalah masih tingginya pencarian properti secara tahunan,” terang Marine, dikutip dari siaran pers yang diterima, Selasa (16/2/2021).

Data RIPMI ini memiliki akurasi yang cukup tinggi untuk mengetahui dinamika yang terjadi di pasar properti di Indonesia, karena merupakan hasil analisis dari 400.000 listing properti dijual dan disewa dari seluruh Indonesia, dengan lebih dari 17 juta halaman yang dikunjungi setiap bulan dan diakses oleh lebih dari 5,5 juta pencari properti setiap bulannya.

Indeks Harga

Rumah.com Indonesia Property Market Index – Harga (RIPMI-H) pada Q4 2020 berada pada angka 110,7, turun 0,5% dibanding Q3 2020 (quarter-on-quarter).

“Kuartal genap, khususnya Q4 dari tahun ke tahun memang selalu menunjukkan perlambatan kenaikan harga dan pencarian, namun baru kali ini terjadi penurunan harga baik secara kuartal dan tahunan sehingga low season ini lebih terasa di tengah pandemi yang masih berlangsung. Secara tahunan, indeks ini mengalami penurunan yang lebih besar jika dibandingkan indeks pada Q4 2019 (year-on-year), yakni sebesar 1,3%.” jelas Marine.

Penurunan indeks harga properti lebih terlihat di sektor apartemen. RIPMI-H untuk apartemen berada pada angka 112,5 pada Q4 2020, turun 0,3% dibandingkan Q3 2020 dan 2,5% dibandingkan Q4 2019.

Sementara itu, RIPMI-H untuk rumah tapak berada pada angka 115,6 pada Q4 2020, turun sebesar 0,4% dibanding kuartal sebelumnya namun secara tahunan masih tercatat naik sebesar 0,3%.

Berdasarkan data RIPMI, turunnya indeks harga pada Q4 2020 disebabkan oleh penurunan di sejumlah wilayah.

Baca Juga: Veranda, Hunian Mewah di Selatan Jakarta

Pada Q4 2020, RIPMI-H untuk wilayah DKI Jakarta turun sebesar 1,19% dibandingkan kuartal sebelumnya. DI Yogyakarta mengalami penurunan terbesar yakni sebesar 1,96% (quarter-on-quarter). Jawa Timur juga mengalami koreksi negatif sebesar 1,47% (quarter-on-quarter).

DKI Jakarta mengalami penurunan secara merata di kisaran 1,2% per kuartal. Wilayah dengan penurunan harga terbesar adalah Jakarta Pusat, yang turun sebesar 2,2% (quarter-on-quarter).

Sementara itu, Jakarta Utara turun sebesar 1,6% (quarter-on-quarter). Turunnya harga di kedua wilayah Jakarta ini terjadi baik di segmen rumah tapak maupun apartemen.

Jakarta Pusat dan Jakarta Utara merupakan kawasan properti kelas atas, dengan harga hunian rata-rata di atas Rp4 miliar. Penurunan harga di kedua wilayah ini masih terbilang wajar karena permintaan untuk harga di kisaran ini memang sedang rendah.

“Turunnya harga properti di kawasan Jakarta Utara dan Jakarta Pusat disebabkan harga properti yang sudah tinggi. Sementara konsumen properti yang sedang aktif saat ini adalah konsumen untuk kisaran harga menengah dan menengah atas. Berdasarkan data Rumah.com, permintaan properti untuk hunian saat ini ada di kisaran harga Rp300 juta hingga Rp1,5 miliar,” ungkap Marine.

Sementara itu sejumlah wilayah justru mengalami tren positif yaitu Banten, Jawa Barat, dan Bali.

RIPMI-H Q4 untuk Banten naik sebesar 1,1% dibandingkan kuartal sebelumnya. Jawa Barat mengalami kenaikan terbesar yakni 1,8% (quarter-on-quarter). Bali juga naik sebesar 1,6% secara kuartalan.

Baca Juga: Hadapi Tren Baru Perkantoran, Intiland Surabaya Hadirkan Konsep Family Office

Jawa Barat dan Banten masih mampu menjaga kenaikan harga karena ditopang Kota Depok yang mengalami kenaikan sebesar 7,5% (quarter-on-quarter).

Kenaikan terjadi baik di segmen apartemen maupun rumah tapak. Kenaikan indeks harga yang cukup tinggi juga terjadi di Kabupaten Bekasi, yakni sebesar 6,5% (quarter-on-quarter). Sedangkan Kota Tangerang mengalami kenaikan sebesar 2,3% pada Q4 2020 dibandingkan kuartal sebelumnya.

Indeks Suplai

Sementara itu Rumah.com Indonesia Property Market Index – Suplai (RIPMI-S) menunjukkan adanya lonjakan suplai di tahun 2020. Di tengah penurunan harga ini, semua area terus menunjukkan peningkatan suplai hunian yang ingin terjual.

Dalam dua kuartal terakhir, yakni Q3 dan Q4 2020, suplai properti mengalami peningkatan dengan rata-rata 37% per kuartal. Peningkatan ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata kuartalan dalam lima tahun terakhir, sebesar 11,2% per kuartal.

Data Rumah.com menunjukkan bahwa suplai properti residensial terbesar masih datang dari DKI Jakarta, yakni sebesar 32% dari total suplai nasional. Sementara itu, Jawa Barat menyumbang suplai sebesar 30%, diikuti Banten (17%), dan Jawa Timur (12%).

RIPMI-S Q4 2020 untuk Jawa Barat mengalami kenaikan sebesar 19,5% (quarter-on-quarter), sekaligus yang terbesar di antara provinsi lainnya.

Banten mengalami kenaikan sebesar 13%, sedangkan DKI Jakarta juga mengalami kenaikan yang hampir sama besarnya yakni sebesar 12,9% (quarter-on-quarter). Peningkatan suplai juga terjadi di Jawa Timur yakni sebesar 9% (quarter-on-quarter).

Indeks suplai Jawa Barat mengalami kenaikan karena didukung naiknya suplai di masing-masing wilayah, seperti Bekasi pada Q4 2020 berada pada angka 183,8 atau naik 25,2% dari kuartal sebelumnya.

Tren suplai ini meningkat baik pada tipe apartemen maupun rumah tapak. Adapun dari segmen rumah tapak Bekasi mengalami kenaikan sebanyak 25,7% (quarter-on-quarter) dengan angka indeks 173,3, sedang dari apartemen naik sebanyak 10,2% (quarter-on-quarter) dengan angka indeks 85,8.

Baca Juga: Beli Apartemen di Australia, Tetap Kantongi SHM

Sedangkan indeks suplai Kota Tangerang Selatan berada pada angka 113,7 dengan kenaikan 16,3% (quarter-on-quarter), sementara Kabupaten Tangerang dengan indeks sebesar 227,3 mengalami kenaikan sebesar 12,1% (quarter-on-quarter).

Kota Tangerang sendiri juga mengalami kenaikan sebanyak 16,7% (quarter-on-quarter) dengan angka indeks 157,6.

Menurut Marine, kenaikan suplai properti di wilayah satelit DKI Jakarta ini menjadi indikasi bahwa pengembang memfokuskan pembangunan hunian untuk kelas menengah dan menengah atas di kawasan-kawasan alternatif dengan harga yang lebih terjangkau.

“Harga properti di Kabupaten Tangerang saat ini berada pada kisaran Rp 7,4 juta/m2, sementara Bekasi masih Rp 8,7 juta/m2. Harga ini tentu jauh lebih rendah jika dibandingkan harga properti di DKI Jakarta yang minimal berada di kisaran Rp 22 juta/m2. Sama seperti Kota Tangerang, kawasan ini juga mengalami pembangunan infrastruktur transportasi yang pesat sehingga aksesnya menjadi lebih mudah,” katanya.

Tren Pencarian Properti

Pencarian properti di Rumah.com pada Q4 2020 turun sebesar 14% dibandingkan kuartal sebelumnya. Namun, secara tahunan, pencarian properti di Rumah.com masih meningkat hingga dua kali lipat.

Turunnya tren pencarian properti pada wilayah-wilayah di Jabodetabek ini memang erat kaitannya dengan siklus properti tahunan, di mana Q4 merupakan masa dimana permintaan properti memang rendah akibat banyaknya pengeluaran orang di akhir tahun terkait kebutuhan belanja konsumtif dan liburan. Apalagi pandemi Covid-19 juga belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir sehingga orang juga menahan diri untuk pengeluaran besar.

Dampak pandemi Covid-19 juga terlihat dalam Rumah.com Consumer Sentiment Study H1 2021 dimana setiap satu dari dua responden mengaku menunda rencana pembelian properti pada masa pandemi ini.

Salah satu penyebab responden menunda pembelian propertinya adalah karena mereka merasa kesulitan untuk datang langsung ke lokasi properti. Selain itu mereka juga menghindari zona merah atau zona dimana terdapat banyak kasus Covid-19.

Rumah.com Consumer Sentiment Study ini adalah survei berkala yang diselenggarakan dua kali dalam setahun oleh Rumah.com bekerjasama dengan lembaga riset Intuit Research, Singapura.

Hasil survei kali ini diperoleh berdasarkan 1078 responden dari seluruh Indonesia yang dilakukan pada bulan Juli hingga Desember 2020. Survei ini dilakukan oleh Rumah.com sebagai portal properti terdepan di Indonesia untuk mengetahui dinamika yang terjadi di pasar properti di tanah air.

Dari 1078 responden survei Rumah.com Consumer Sentiment Study H1 2021, sebanyak 66% menyediakan budget kurang dari Rp500 juta untuk membeli properti.

Baca Juga: Paramount Land Rilis Ruko Baru, “Aniva Junction”

Data ini sejalan dengan tren suplai properti, di mana peningkatan suplai lebih banyak terjadi di wilayah-wilayah pinggiran kota besar, yang masih menyediakan lahan dengan harga yang lebih terjangkau.

Sebanyak 57% responden mengatakan kedekatan lokasi perumahan dengan sarana transportasi umum seperti stasiun, terminal, atau halte bus menjadi faktor eksternal utama dalam membeli properti.

Sementara itu, sebanyak 77% responden mengaku tak mempermasalahkan properti dengan fasilitas minimum, asal harganya lebih murah.

Marine memberikan kesimpulan bahwa pandemi Covid-19 membuat dampak low season di sektor properti semakin terasa pada Q4 2020 dimana terjadi penurunan harga properti, kenaikan suplai, dan turunnya permintaan secara nasional.

Meski demikian, tren properti di sejumlah wilayah favorit masih tetap terjaga. Jawa Barat dan Banten tetap menunjukkan kenaikan harga properti, terutama di Depok, Bekasi, Cikarang serta Tangerang. Hal lain yang dapat menjaga optimisme pasar properti di 2021 adalah masih tingginya pencarian properti secara tahunan.

Sementara itu, pembangunan infrastruktur transportasi umum dan jalan, baik jalan raya maupun jalan tol, masih menjadi daya tarik utama sebuah wilayah dari sudut pandang pencari properti. Pembangunan infrastruktur ini juga mendorong kenaikan harga properti di wilayah seperti Cikarang dan Depok.

Berdasarkan analisis tersebut, tanpa menafikan fakta bahwa kondisi ekonomi sedang terganggu akibat pandemi, Rumah.com memprakirakan bahwa pada kuartal pertama 2021 ini, tren harga properti masih akan mengikuti siklus tren properti di mana pengembang akan kembali menaikkan harga properti.

Kenaikan setidaknya akan terjadi secara kuartalan. Laporan lengkap Rumah.com Indonesia Property Market Index Q1 2021 dapat diakses di sini.

Marine menambahkan bahwa turunnya harga properti dan naiknya suplai properti menunjukkan bahwa pasar properti masih berada dalam situasi buyer’s market. Bagi konsumen yang sudah siap secara finansial, inilah saat terbaik untuk membeli properti.

Konsumen akan dimanjakan oleh melimpahnya pilihan properti dengan harga yang bersaing. Bagi pengembang properti, wilayah-wilayah penyangga kota besar dengan pembangunan infrastruktur transportasi umum dan jalan tol masih akan menjadi incaran konsumen.

Baca Juga: Klaster Lumihous Tahap 2 di Legenda Wisata Cibubur Habis Terjual saat Peluncuran

“Adanya program vaksinasi nasional Covid-19 yang telah dimulai pada 13 Januari 2021 diharapkan bisa berjalan lancar dan efektif sehingga pandemi bisa segera teratasi. Melalui program vaksinasi ini, kita semua berharap situasi dapat kembali normal, termasuk aktivitas ekonomi, terutama di industri properti karena bangkitnya sektor properti memiliki dampak turunan terhadap lebih dari 170 sektor industri terkait,” pungkas Marine.

BERITA TERKAIT

PROPERTI TV

BERITA TERBARU