Lippo Akan Perluas Palembang Icon

3
palembang icon
Co Ing, Mall Director Palembang Icon juga ketua DPD APPBI Sumsel./ Foto: Padre - Propertiterkini.com

Palembang Icon adalah pusat belanja terbaru dari empat pusat belanja milik Lippo Group di Sumatera Selatan. Mal ini menempel persis dengan stasiun LRT dan akan diperluas dengan konsep lebih ke lifestyle dan city hub.

Propertiterkini.com – Pertumbuhan ekonomi Kota Palembang dan Sumatera Selatan yang cukup tinggi masih sangat terkait dengan komoditi, pada umumnya adalah karet dan sawit. Ada beberapa pihak yang menilai bahwa ekonomi Palembang sedang lesu, mungkin properti yang paling terdampak. Namun demikian, dari sisi pusat belanja stabil saja.

Baca Juga: Properti Palembang Bagai Gadis Seksi yang Menggoda

“Tapi kami harus extra effort saja untuk bekerja. Buktinya, banyak sekali ritel nasional dan internasional minta masuk ke sini. Artinya demand itu masih sangat tinggi,” ujar Co Ing, Mall Director Palembang Icon (Lippo Malls) di Palembang belum lama ini.

Hal ini juga dibuktikan dengan kondisi ritel di Palembang yang masih tumbuh. Dari survei yang dilakukan di beberapa tenant, masih growth sekitar 9-10% dari trafik dan belanja.

Advertisement

Menurut data Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Sumatera Selatan, saat ini ada sebanyak 11 mal di seluruh Sumsel. Untuk di Palembang sendiri ada 7 mall. Masing-masing mal, sebut Co Ing, memiliki ciri khasnya tersendiri.

“Sehingga customer-nya juga sendiri. Pada akhirnya akan terbentuk market masing-masing. Mall kami memang jauh lebih komplit. Era saat ini, bisnis lebih ke entertaining, jadi memang kami lebih ke sana,” kata Ketua DPD APPBI Sumsel ini.

Menurut Co Ing, pengelola pusat belanja selalu optimis bahwa akan terus tumbuh dan berkembang. Terkait gejolak perubahan saat ini, maka dibutuhkan terobosan inovasi baru untuk menyesuaikannya.

“Kami bilang, ritel tidak pernah mati tetapi mereka merubah bentuk. Menyesuaikan lagi dengan kondisi terkini. Semua perusahaan melakukan hal yang sama. Semuanya akan berubah, termasuk yang tradisional. Konsep orang datang sekarang bukan untuk belanja. Dengan kondisi seperti itu ritel tetap jalan kok. Yang jualan sepatu tetap happy,” katanya.

Disinggung soal massifnya belanja online yang diisukan menjadi sebab musabab tutupnya beberapa gerai belanja, Co Ing tak menampik, meski pengaruhnya sangat kecil. Sehingga dia tak yakin, tutupnya beberapa tenant sepenuhnya lantaran akibat dari belanja online.

Baca Juga: Garuda Indonesia Terbang Langsung, Palembang – Jeddah

Dia mencontohkan, kondisi belanja online dai negara maju seperti Amerika dan China pun tidak begitu bagus. Padahal infrastruktur mereka sudah sangat maju untuk mendukung proses pengiriman, termasuk internet dan lainnya.

“Pada akhirnya online dan offline tidak bisa dipisah. Jadi dibilang pengaruh tetapi tidak terlalu besar. Online maupun offline sama-sama growth. Keduanya saling mengisi. Beberapa tenant kami yang offline pun melakukan online, cuma mereka lebih selektif,” jelasnya.

“Jadi kalau secara lokasi atau sales tidak begitu bagus, wajar mereka harus tutup,” sambung Ketua DPD APPBI tersebut.

Masih Kecil untuk Kota Palembang



Palembang Icon dibangun di lahan seluas 5 ha lebih. Bangunan mal tersebut memiliki luas 45.000 meter persegi, sementara ritelnya 35.000 meter persegi.

Sebagaimana nama yang disematkan, “Icon”, mall ini diklaim memlopori lifestyle mall ke Palembang yang berstandar nasional dari Jakarta. Bahkan 80-90 persen brand nasional dan internasional yang ada di mal tersebut.

“Sehingga kami berharap, kehadiran mall ini dapat menjadi icon di hati konsumen Palembang,” tegas Co Ing.

Baca Juga: Mulai Dibangun, IKEA Jakarta Garden City Beroperasi 2020

Soft Opening Palembang Icon dilakukan pada 11 Desember 2013. Kemudian Grand Opening 18 Oktober 2014 dan sejak itu mulai beroperasi. Bahkan saking pesatnya perkembangan mal tersebut, pada saat grand opening okupansi sudah mencapai 80 persen.

Saat ini rata-rata pengunjung Palembang Icon berkisar ½ juta orang. Biasanya weekend akan naik sekitar 60-70 persen dari hari biasa. Rata-rata tujuan pengunjung lebih pada kegiatan pertemuan (meeting) dan makan.

“Bonusnya baru belanja,” imbuhnya.

Palembang Icon berlokasi di tengah kota dan menjadi hub. Mal ini juga menempel langsung dengan Stasiun LRT Palembang yang sudah beroperasi sesaat sebelum penyelenggaraan Asian Games 2018 lalu.

“Ada tamu dari Jakarta dari Bandara naik LRT turun di Stasiun Palembang Icon (Bumi Sriwijaya), mereka meeting, makan dan pergi lagi,” kata Co Ing.

Melihat potensi yang teramat besar, apalagi jumlah pengunjung mal juga berpotensi terus meningkat, maka Lippo Group pemilik Palembang Icon berencana memperluas mal tersebut. Kata Co Ing, mal dengan ukuran 45.000 meter persegi untuk ukuran Kota Palembang masih termasuk kecil. Harusnya sekitar 90.000-120.000 m2. Sebagaimana di Medan, dimana Lipppo sudah membangun mal dengan ukuran cukup besar, yakni Sun Plaza seluas 120.000 meter persegi.

“Untuk rencana hotel masih dalam perbincangan, tapi sudah pasti adalah mal. Kami akan fokus ke pengembangan mal, saat ini masih sangat kecil,” kata Co Ing.

Sejatinya, rencana perluasan mal Palembang Icon sudah dibahas sejak 2016 lalu. Menurut Co Ing, tahap awal sebenarnya sudah dimulai, hanya saja kondisi ritel sementara wait and see dan keadaan masih terus berubah.

Baca Juga: Lippo Group Resmikan Rumah Sakit Siloam Semarang

“Saat ini kami sedang menunggu momentum untuk mulai. Mal nantinya sangat ada perbedaan dengan yang saat ini. Saat ini mal tidak hanya sebagai tujuan belanja. Lebih ke entertaining dan city hub. Jadi arahnya ke situ,” terangnya.

Lippo Group sendiri telah mengembangkan sebanyak 68 pusat belanja yang tersebar di seluruh Indonesia. Untuk di Palembang sebanyak 4 pusat belanja, yakni Palembang Icon, Palembang Square, Palembang Square Extension, dan Lippo Plaza Jakabaring. Mal terbesar adalah Palembang Square dengan luas bangunan mall sekitar 100.000 meter persegi. Lippo juga sudah mengembangkan satu hotel, yakni Aryaduta.

“Palembang Icon adalah pusat belanja terbaru dengan gaya dan konsep berbeda, yakni lebih lifestyle dan modern,” pungkas Co Ing.

3 COMMENTS

Komentar