Sunday, April 11, 2021
Pasang Iklan disini ....

Standar Arsitektur Hunian Sehat, Begini Cara Menatanya

Untuk daerah tropis seperti Indonesia, rumah harus memenuhi aspek kecukupan pencahayaan matahari dan memiliki sirkulasi udara yang baik, di samping fasilitas ruang terbuka hijau yang memadai.

PropertiTerkini.com, (JAKARTA) – Pola kehidupan masyarakat dunia termasuk Indonesia kini berubah. Mewabahnya virus corona atau Covid-19 menuntut perubahan standar kebisaan hidup manusia. Demikian halnya pada standar arsitektur hunian sehat.

dr. Yulia Muliaty praktisi kesehatan yang berpengalaman sebagai Pembina Kota Sehat di wilayah Jakarta Timur mengingatkan masyarakat untuk dapat meningkatkan pola hidup sehat, terutama di tempat tinggal mereka.

Baca Juga: “Ikigai”, Konsep Menata Hunian untuk Kebahagiaan

Terkait dengan hal ini, wanita yang biasa disapa dr Lia tersebut memberikan beberapa tips praktis agar masyarakat dapat menerapkan standar hunian sehat.

Pertama, pastikan bahwa huniannya memiliki ventilasi udara yang memadai di tiap ruangan. Kedua, pastikan masuknya cahaya matahari ke dalam rumah.

Ketiga, saat ini terjadi peningkatan cluster yang rentan Covid-19 melalui sirkulasi udara yang berputar secara statis seperti pada ruangan yang menggunakan air conditioning (AC).

“Walaupun kontak dekat menjadi faktor utama, namun kondisi berjejalan dengan ventilasi ruangan yang buruk bisa menjadi sebab bertahannya virus dalam ruangan,” jelasnya.

Keempat, usahakan memilih ruang penerima tamu di luar ruangan dengan udara bebas serta tidak bersinggungan langsung dengan ruang keluarga.

Baca Juga: 15 Ide Desain Kamar Mandi Modern

Kelima, pastikan tersedia fasilitas cuci tangan ataupun disinfektan di sekitar halaman sebelum masuk ke dalam rumah.

Keenam, sediakan tempat penyimpanan sepatu atau alat-alat yang digunakan di luar rumah secara rutin.

Ketujuh, biasakan untuk membersihkan diri setiap kali sampai di rumah (sebelum bertemu dengan keluarga, terutama anggota yang rentan) dengan mencuci tangan menggunakan sabun setiap kali berkegiatan.

“Hal-hal di atas, kalau diterapkan secara disiplin paling tidak dapat meminimalisir paparan virus covid 19,” ujarnya.

Standar Arsitektur Hunian Sehat

Lalu bagaimana dunia arsitektur bisa mengakomodir protokol kesehatan dalam menghadapi ancaman Covid-19?

Dalam hal konsep hunian ideal untuk adaptasi dengan kondisi saat ini, arsitek Ren Katili dari Studio ArsitektropiS memaparkan beberapa standar arsitektur hunian sehat yang bisa diterapkan masyarakat.

Baca Juga:  Mudah! Begini 5 Ide Dekor Rumah Agar Temu Virtual Tak Membosankan

Menurut dia, hunian yang adaptif untuk pencegahan penyebaran virus Covid-19 sebenarnya sudah diakomodasi dalam konsep rumah sehat yang selalu memperhatikan unsur iklim daerah setempat.

Untuk daerah tropis seperti Indonesia, kata founder studio ArsitektropiS tersebut, rumah harus memenuhi aspek kecukupan pencahayaan matahari dan memiliki sirkulasi udara yang baik, di samping fasilitas ruang terbuka hijau yang memadai.

“Rumah yang memiliki sirkulasi udara baik dengan pencahayaan sinar matahari cukup akan mampu mereduksi kelembaban udara yang tinggi di daerah tropis sehingga rumah tidak terasa lembab yang memudahkan berkembangbiaknya bakteri serta virus-virus berbahaya,” ujarnya.

Menguatkan pendapat dr Lia, Ren menambahkan, hunian sehat idealnya memang tidak perlu menggunakan pendingin ruangan (AC) yang harus disimpan di ruang tertutup.

Baca Juga:  Promo Terbaru Green Avenue, Beli Sekarang atau…

Sesuai berbagai referensi yang ia dapatkan, droplet yang mengandung Covid-19 dapat menyebar lebih cepat di ruangan ber-AC ketimbang di luar ruangan atau di dalam ruangan yang memiliki ventilasi leluasa.

Lalu bagaimana mengatasi problem overheating yang sering dikeluhkan orang pada ruangan yang tidak ber-AC?

Ren berpendapat, temperatur tinggi yang terjadi tersebut, biasanya karena pencahayaan matahari berlimpah di daerah tropis, dan rata-rata dialami oleh rumah yang memiliki aliran udara rendah.

Untuk menghindari kondisi overheat seperti itu, ia menyarankan, saat membangun rumah, bangunan sebaiknya diorientasikan pada arah utara-selatan.

Baca Juga:  Apartemen di Sentul Siap Masuki New Normal

Selain itu, bentuk bangunan yang pipih (desain persegi panjang) menurutnya juga lebih baik daripada denah rumah yang berbentuk gemuk (seperti kubus) karena udara akan lebih cepat keluar masuk.

Dalam hal trafik udara, masih menurut Ren, idealnya setiap rumah memang memiliki 2 lubang yang bisa menjadi pintu keluar masuk udara.

Namun di kompleks perumahan yang padat saat ini, tidak bisa dihindari lagi, banyak rumah yang akhirnya hanya memiliki satu fasad karena bagian belakangnya ditutup rapat ketika penghuninya butuh ruang tambahan.

Untuk kondisi seperti itu, Ren menganjurkan dibuat bukaan atas agar udara panas bisa keluar leluasa.

Selain bukaan untuk trafik udara, presentasi luas dasar terhadap luas lahan juga harus diperhatikan demi kualitas udara, tanah dan air sehingga tercipta keseimbangan kelestarian lingkungan.

Baca Juga: Jababeka Pasarkan Rumah Sehat Dua Lantai Rp300 Jutaan

Lalu bagaimana untuk rumah yang sudah telanjur ditingkat? “Siasati dengan membuat jendela atau bukaan di atas tangga agar udara jangan sampai mampat,” pungkasnya memberi saran.

BERITA TERKAIT

PROPERTI TV

BERITA TERBARU