Terowongan Terpanjang Diresmikan Presiden Jokowi

Untuk keamanan, underpass ini juga dilengkapi dengan delapan pintu darurat yang tersebar di sisi kiri dan kanan setiap 250 meter.

0
terowongan terpanjang indonesia
Presiden Joko Widodo didampingi Menteri PUPR Basuki Hadimuljono meresmikan pembangunan jalan bawah tanah atau underpass YIA di Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta, Jumat (31/1/2020)./ dok. PUPR

PropertiTerkini.com, (JAKARTA) – Presiden Joko Widodo meresmikan pembangunan terowongan terpanjang Indonesia, yakni Yogyakarta International Airport (YIA) di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jumat (31/1/2020).

Terowongan atau underpass ini memiliki panjang 1,4 kilometer dan menjadi terowongan terpanjang Indonesia yang dibuktikan dengan penyerahan rekor MURI oleh Direktur MURI Osman Semesta Soesilo.

Pembangunan terowongan telah selesai dikerjakan oleh Kementerian PUPR melalui Ditjen Bina Marga pada 6 Desember 2019 dan sudah dibuka untuk umum (open traffic) pada Jumat (24/1/2020).

Baca Juga: Terowongan Nanjung Diresmikan, Jokowi: Setelah 2020 Banjir Tak Ada Lagi

“Sore ini saya meresmikan terowongan terpanjang di Indonesia, yakni 1,4 kilometer. Terowongan ini merupakan bagian dari keseluruhan proyek YIA,” ujar Presiden Jokowi.

Presiden berharap, adanya terowongan ini juga dapat memberikan kontribusi terutama peningkatan wisatawan menuju Yogyakarta, Borobudur, Prambanan dan sekitarnya.

“Tinggal nanti kita rampungkan pelayanan transportasi antar moda yang interterkoneksi, sehingga masyarakat memiliki opsi-opsi yang bisa digunakan,” kata Jokowi.

Pembangunan underpass ini bertujuan agar akses Jalur Nasional Pantai Selatan (Pansela) Jawa yang menghubungkan Purworejo dan Wates – Yogyakarta tetap terbuka karena pembangunan YIA memotong jalan Pansela yang lama.

“Dengan underpass ini, Jalan Pansela tidak terputus oleh runway YIA. Selain dilengkapi fasilitas standar untuk terowongan, Underpass YIA juga dilengkapi dengan peringatan suara bagi para pengguna jalan agar selalu berhati-hati. Untuk kecepatan dibatasi 40 km/jam,” kata Menteri Basuki.

Disamping itu, beroperasinya underpass YIA juga mendukung Jalur Pansela sebagai alternatif Jalur Pantura yang telah padat lalu lintasnya dan menjadi jalur wisata.




“Kita terus promosikan jalur Pansela Jawa, supaya orang tertarik lewat Selatan. Karena tidak hanya jalannya yang bagus, namun juga memiliki pemandangan yang indah (panoramic road) karena banyaknya objek wisata,” lanjut Basuki.

Senada dengan Menteri Basuki, Direktur Jenderal Bina Marga Sugiyartanto mengatakan Jalur Pansela memiliki ciri khas tersendiri, di mana sebagian besar jalannya berada di dekat Pantai Selatan sehingga potensial menjadi jalur pariwisata.

Baca Juga: Bandara Internasional Yogyakarta Terkoneksi Tol dan Kereta

“Para pengguna jalan dapat menikmati obyek wisata di kawasan selatan, termasuk potensi kulinernya. Saya harapkan ekonomi lokal maupun regional bisa berkembang, seperti di Yogyakarta yang memiliki Pantai Drini,” terang Sugiyartanto.

Untuk menjamin kenyamanan ruas Pansela sebagai jalur wisata, terowongan terpanjang ini dibangun dengan lapisan pelindung sheet pile pada dinding untuk menghindari rembesan air penyebab banjir. Underpass ini juga dilengkapi empat pompa dengan kemampuan mengalirkan debit banjir 5 meter kubik/menit untuk setiap pompa. Debit banjir ini kemudian dialirkan ke sistem drainase yang menyatu dengan bandara kemudian dialirkan ke arah laut.

underpass yia yogyakarta
Terowongan sepanjang 1,4 kilometer ini dilengkapi dengan delapan pintu darurat yang tersebar di sisi kiri dan kanan setiap 250 meter./ dok. PUPR

Untuk keamanan underpass ini juga dilengkapi dengan delapan pintu darurat yang tersebar di sisi kiri dan kanan setiap 250 meter.

Underpass ini juga dihiasi dengan ornamen khas Yogyakarta seperti Tari Jathilan, Tari Angguk Putri, Kalamakara dan Setilir Gebleg Renteng.

“Ini bagian dari kearifan lokal, hal ini menggambarkan bahwa teknis tidak harus kaku tetapi bisa mengadopsi budaya lokal. Kebetulan dari Sri Sultan memberi masukan untuk menggunakan ciri khas budaya lokal. Pemilihan ornamen Tari Jathilan yang merupakan seni kerakyatan menggambarkan infrastruktur yang dibangun dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat,” tambah Sugiyartanto.

Pembangunan Underpass YIA dimulai pada November 2018 dengan biaya Rp293 miliar bersumber dari Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) / Sukuk Negara Tahun Anggaran 2018-2019.

Baca Juga: Archipelago International Resmikan Hotel ke-8 di Yogyakarta

Underpass YIA terdiri dari konstruksi terowongan (slab tertutup) sepanjang 1.095 meter serta jalan pendekat arah timur dan barat masing-masing sepanjang 158 meter dan 183 meter. Underpass memiliki lebar 7,85 meter, clearance atas 5,2 meter dan samping 18,4 meter. Underpass ini dikerjakan oleh kontraktor PT Wijaya Karya – MCM KSO.