Intiland Surabaya, Kuat Karena Punya Konsep yang Beda

1
Harto Laksono Intiland Surabaya
Harto Laksono, Marketing Director PT Intiland Grande (Intiland Surabaya)./ Foto: Hamzah Alex

Intiland Surabaya dalam setiap produknya selalu memiliki nilai lebih yang sekaligus menjadi pembeda dengan proyek dari pengembang lain. “Kalau hanya jualan properti saja tanpa suatu added value yang kuat, saya rasa juga sulit memasarkannya,” Harto Laksono.

PropertiTerkini.com (Surabaya) – Persaingan bisnis properti di Kota Surabaya sudah sangat tinggi. Baik antara pengembang swasta maupun perusahaan pelat merah alias BUMN. Untuk ini, dibutuhkan strategi serta sejumlah konsep yang kuat agar mampu bertahan di tengah persaingan tersebut.

Baca Juga: Properti Surabaya Dulu dan Sekarang, hingga Nasihat Sinarto Dharmawan Bagi Generasi Muda

Pengembang besar seperti Intiland Development pun menyadari akan hal tersebut. Menggarap properti Surabaya sejak akhir tahun 1970-an, namun setiap masa ada saja perubahan dan tantangan baru yang harus dihadapi. Di sinilah, pengembang dituntut untuk terus mengikuti pola permintaan pasar yang ada dengan menghadirkan strategi dan konsep yang baru.

“Dalam setahun belakangan ini, kalau dilihat dari profil buyers, lebih banyak end user. Investor lagi menunda dan menahan dulu. Ini artinya yang beli karena mereka benar-benar butuh, bukan untuk investasi,” ujar Harto Laksono, Marketing Director PT Intiland Grande (Intiland Surabaya) di Spazio Office, Surabaya Barat, akhir Agustus lalu.

Fenomena ini tentu menjadi salah satu indikasi bahwa pasar properti memang masih dalam tekanan, terutama pada segmen menengah ke atas. Intiland Surabaya yang menyasar segmen ini pun mengalami hal serupa.

Advertisement

“Kebanyakan pembeli kami, mereka adalah private honor business. Saya melihat dari sisi bisnis mereka juga beberapa mengalami gangguan. Kalau dilihat sisi politik, kemudian kebijakan perbankan juga mulai melunak. Kalau faktor secara global pasti pengaruh juga,” Harto mengungkapkan alasannya.

Baca Juga: Apartemen Mewah di Surabaya Tetap Tumbuh

Lebih rinci dia bilang, residensial di Surabaya saat ini sudah melebar ke berbagai arah, terutama Sidoarjo dan Gresik. Banyak pengembang tersebut bermain pada level Rp1 miliar ke bawah, dimana marketnya masih cukup stabil dan konsisten.

“Kalau highrise agak nahan. Kecuali yang sudah jadi dan mereka butuh, pasti akan masuk ke apartemen. Seperti di proyek kami, properti di bawah Rp2 miliar lebih banyak permintaan dibandingkan dengan di atas itu,” ungkapnya.

Added Value

Intiland Surabaya dalam setiap produknya selalu memiliki nilai lebih yang sekaligus menjadi pembeda dengan proyek dari pengembang lain.

“Kalau kami, semua produk pasti ada added value yang bisa kami berikan kepada konsumen. Dan produk kami juga dibangun dengan suatu konsep yang kuat sehingga menjadi pembeda dengan lainnya. Termasuk juga dari segi fasilitas dan lainnya,” kata Harto.

Baca Juga: Ciputra World Surabaya Pasarkan Sky Residence

Dengan demikian, menurutnya, konsumen yang beli pun tidak hanya sekadar ditinggali tetapi mereka juga menikmati suasana dan lingkungan yang nyaman dan lebih baik.

“Jadi kalau hanya jualan properti saja tanpa suatu added value yang kuat, saya rasa juga sulit memasarkannya. Kemudian juga dari kemudahan cara bayar yang juga menjadi pintu masuk mereka membeli,” terangnya.

Lebih dari itu, masih menurut Harto, saat ini yang paling sulit adalah bagaimana caranya untuk mendatangkan orang ke tempat kita. Alasannya, kata dia, karena beli properti tidak sama dengan barang lain yang bisa secara online langsung transaksi.

“Kalau properti kan dia harus datang melihat langsung. Makanya di setiap marketing office/show unit kami gandengkan dengan fungsi lain, misalkan F&B, atau aktivitas lain. Sehingga mereka datang bukan hanya mau ke show unit tapi ada tujuan dan aktivitas lainnya juga,” terang Harto.

Selain hunian, kebutuhan akan perkantoran di Surabaya juga cukup tinggi, menempati urutan kedua. Intiland juga tengah memasarkan unit perkantoran yang sudah siap digunakan. Antaralain Spazio Tower, Praxis Office dan apartemen, juga Graha Natura dan Graha Golf, serta apartemen The Rosebay (low rise).

Baca Juga: Intiland Luncurkan Dua Klaster Baru di Graha Natura Surabaya



“Proyek kami ada yang sudah selesai, ada yang sedang progrerss, disamping proyek-proyek baru yang pastinya kami siapkan. Kami lebih fokus di pusat dan Surabaya Barat,” ujar Harto.

Surabaya Barat

Surabaya Barat diakui Harto lebih punya potensi besar dalam pengembangan properti. Masih banyak lahan potensial, baik dalam penguasaan pengembang besar maupun kecil yang berpotensi untuk dibangun.

“Kalau Surabaya Timur sudah ketemu pantai sehingga agak sulit. Utara dan selatan pun sudah ke luar kota.

progres pembangunan The Rosebay Surabaya
Direktur Marketing Intiland Wilayah Surabaya, Harto Laksono (kiri) bersama Pimpinan Proyek The Rosebay, Harijono Handoko (kanan) memantau progres pembangunan The Rosebay Surabaya yang berlokasi dekat dengan kawasan perumahan Graha Famili, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (27/9/2019)./ Foto: Intiland

Dari segi infrastruktur pun sangat mendukung pengembangan kawasan ini. Selain yang sudah ada, saat ini juga tengah dibangun Jalan Lingkar Luar Timur (JLLT), Jalan Lingkar Luar Barat (JLLB), Middle East Ring Road (MERR) dan beberapa lainnya. Terutama JLLB yang nantinya akan membelah beberapa kawasan perumahan besar di Surabaya Barat.

Baca Juga: Grand Alexandria, Investasi Pasti di Sunrise Property Surabaya

“Secara image development juga lebih tinggi di barat dibandingkan dengan timur. Istilahnya kalau di timur banyak orang kaya lama yang saat ini anak-anaknya tinggal di Surabaya Barat. Kalau secara luas pengembangan memang di barat ini yang sedang dan akan terus berkembang,” sebutnya.

Segmen Menengah Atas

Intiland Surabaya masih fokus menyasar segmen menengah dan atas di Surabaya. Beberapa produk properti, baik residensial juga komersial mendapatkan respon yang cukup baik dari pasar Surabaya dan sekitarnya.

Graha Golf, misalnya, saat ini hanya menyisakan 15 persen. Untuk tipe 3 BR dijual sekitar Rp4,8 miliar. Sementara The Rosebay dilego mulai Rp2,5 miliar untuk tipe 2 BR. Apartemen low rise ini dibangun sebanyak 7 blok dan saat ini sedang dalam penyelesaian 2 blok lagi.

“Mainnya di 2 BR dengan luas 75 m2. Harga awal tahun 2016 akhir, kenaikan sudah hampir 40 persen. Rencana awal tahun depan sudah selesai,” kata Harto.

Sementara untuk proyek Graha Natura (55 hektar) saat ini masih fokus pada rumah tapak. Range harga cukup lebar, mulai Rp1,7 miliar sampai Rp5,4 miliaran. Terakhir yang tengah dipasarkan di dua klaster, yakni Acacia dan Gravillea.

Baca Juga: The Rosebay Surabaya Segera Rampung, Begini Progresnya

Gravillea memiliki ukuran lebar 8×20 m, dijual mulai harga Rp3,5 miliar. Sudah terjual lebih dari 65 persen dari hanya 48 unit. Penjualan ditargetkan rampung tahun depan.

Sementara Klaster Acacia (extension dari Edenia) yang lebih kepada keluarga muda, karena harga mulai Rp1,7 miliar, dengan ukuran 6×15 m. Klaster ini melanjutkan sukses dari Edenia Blok E dan F yang diluncurkan sejak 2016. Ada sebanyak hampir 300 rumah yang sudah hampir habis terjual.

“Jadi kalau di level harga seperti ini, untuk kami Intiland masih cukup besar. Kalau landed level harga Rp400-900 jutaan adanya di pinggiran kota. Dalam kota yang sudah establish, seperti di Graha Natura, CitraLand, Pakuwon, harga dimulai dari Rp1,5-2,5 miliar masih oke,” katanya.

graha natura surabaya
Klaster Gravillea, rumah dua lantai hanya 48 unit. Dijual mulai Rp3,5-5,4 miliar./ dok. Graha Natura

Komersial

Untuk properti komersial, seperti ruko juga masih punya cukup baik untuk dipasarkan.
Ruko tahap 1 dan 2 dalam kawasan Graha Natura sudah sold out. Sekarang baru diluncurkan sekitar 15 unit (4,5×15 m ), dijual mulai Rp2,5 miliar.

Lantas bagaimana dengan potensi ruang kerja bersama atau coworking space? Ternyata potensinya juga cukup menjanjikan, apalagi tengah digandrungi para startup yang rata-rata adalah milenial dan professional muda, termasuk mahasiswa.

Intiland Surabaya sendiri menyediakan dua area yang dilengkapi coworking space, yakni di Spazio dan di Darmo Harapan.

Baca Juga: Gandeng Tanrise Property, CoHive Resmikan Coworking Space di Surabaya

“Kami mulai dari Darmo. Peminatnya cukup banyak, terutama bagi startup. Terlihat marketnya akan cukup tumbuh. Seperti di Spazio. Mereka mulai dari kecil dan kita harapkan setelah mereka besar, bisa sewa atau beli kantor di Spazio Office ini,” lanjut Harto.

Saat ini Intiland Surabaya menyewakan ruang kerja coworking space tersebut berkisar mulai Rp50 ribu/6 jam.

1 COMMENT

Komentar