Jurus Menghindar Properti Bodong, Lakukan Ini!

1
bisnis properti bodong
Ilustrasi - Progres pembangunan Apartemen Podomoro Golf View di Cimanggis, Bogor, Selasa (17/9/2019)./ Foto: Pio - PropertiTerkini.com

Hati-hati, banyak kasus penipuan, baik jual beli maupun investasi properti bodong yang terus dilakukan oknum tidak bertanggungjawab. Beberapa cara sederhana ini akan menghindari Anda dari penipuan tersebut.

PropertiTerkini.com – Apakah Anda pernah mendapatkan tawaran harga properti yang sangat murah bahkan tak masuk akal? Atau iming-iming keuntungan besar dari kegiatan investasi properti?

Baca Juga: Berminat Investasi Rumah? Berikut Tipsnya

Hati-hati, bisa jadi itu adalah kegiatan penipuan alias properti bodong. Biasanya dilakukan oknum tak bertanggungjawab, baik marketing maupun yang mengatasnamakan agen properti.

Baiknya, sebelum menyetujui sebuah transaksi, cari tahu dan kenali lebih jauh, diantaranya lokasi proyek, perusahaan pengembang dan reputasinya, hingga agen pemasar tersebut. Sama halnya jika tawaran tersebut adalah investasi berupa sewa menyewa properti.

“Untuk agen properti, ada tiga hal yang harus mereka miliki sehingga bisa memastikan dan menjamin transaksi berjalan aman dan nyaman,” ujar Lukas Bong, Ketua Umum Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI), beberapa waktu lalu.

Advertisement

Pertama, kata Lukas, agen properti harus memiliki sertifikasi yang dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Broker Properti Indonesia (LSP BPI) dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Baca Juga: Sewa Apartemen Aeropolis Melalui Mediapura, Lebih Komplit!

Kedua, harus memiliki Surat Ijin Usaha Perusahaan Perantara Perdagangan Properti (SIUP4) dan ketiga adalah sudah menjadi anggota AREBI.

Namun demikian, terkadang para agen enggan memenuhi ketiga persyaratan ini lantaran dinilai prosesnya terlalu sulit dan berbelit.

“Punya lisensi seperti SIUP4 atau lainnya identik dengan ribet. Mereka harus punya badan hukum, NPWP dan sebagainya. Sehingga ada beberapa agen yang enggan bahkan menghindar. Ini bisa berdampak seperti kasus agen properti bodong beberapa waktu lalu,” terang Lukas Bong.

“Beberapa kasus properti bodong tersebut sudah kami dalami dan ternyata mereka bukan anggota AREBI, sehingga kami tidak bisa bantu lacak,” lanjutnya.

Baca Juga: Gandeng OLX Indonesia, ERA Perkuat Pasar Online

Di sisi lain, Lukas juga menyoroti kurangnya perhatian pemerintah terhadap bisnis dan profesi agen properti. Banyak kasus penipuan terhadap konsumen juga tidak lepas dari peran agen-agen properti perorangan.

“Contoh kasus sewa apartemen. Terkadang agen properti ini berlagak atau berpura-pura seperti pemilik unit. Jadi uang ditransfer ke yang bersangkutan, namun setelah itu tidak disetorkan ke pemilik unit tersebut,” tutur Lukas.

Untuk transaksi dengan jumlah tertentu, lanjut Lukas, wajib lapor di PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan). Selanjutnya, setiap transaksi juga harus dilakukan di depan Notaris dan PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah).

“Tiga lembaga ini sebenarnya sudah cukup kuat,” imbuhnya.



Baca Juga: CitraGarden Puri Jakarta Barat Raup Rp850 Miliar, Hanya 1 Hari!

Sementara bagi para agen yang sudah menjadi anggota asosiasi, AREBI juga akan memberikan perlindungan hukum terhadap berbagai persoalan yang dihadapi. Beberapa diantaranya, seperti komisi yang tidak dibayarkan, hingga persoalan complain konsumen.

“Sering jika developer terlambat bangun atau bahkan batal bangun, maka yang dicari juga agennya. Maka di sini kami akan siap memberikan perlindungan terhadap mereka,” jelas Lukas.

Pekerjaan Rumah AREBI

Meski sudah 27 tahun berdiri, namun ternyata belum banyak yang kenal dan tahu mengenai Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI). Sebagaimana namanya, AREBI merupakan wadah yang beranggotakan perusahaan broker dan agen properti di Tanah Air. Hingga saat ini, AREBI telah menyebar di 14 provinsi.

Sekilas mengulik sejarah, muasal mendirikan asosiasi ini sudah ada sejak tahun 1980-an yang semula diniatkan oleh Ferry Sonneville, Ketua Realestate Indonesia (REI) dan Federation International des Administrateurs de Bien Conselis Immobiliers (FIABCI) saat itu.

Baca Juga: Asmat Amin, Tokoh Pengembang Rumah Rakyat Paling Populer 2019

Rapat perdana digelar tahun 1989 dan terus berjalan hingga 10 tokoh menyepakati asosiasi melalui nota kesepahaman yang ditandatangani pada 7 Oktober 1992.

Para tokoh pendiri AREBI tersebut, yakni Ferry Sonneville, Moh. S. Hidayat, Enggartiasto Lukita, Budiarsa Sastrawinata, Sulistiyo Sidarto Mulyo, Velly Theisa, Frans Mardi, Tommy Sunyoto, Inca W Sianipar, dan Cynthia G Sonneville.

AREBI pun kemudian diresmikan dan dikukuhkan pendiriannya pada 17 November 1992 oleh Menteri Perumahan Rakyat Ir Siswono Yudohusodo.

Hingga saat ini, AREBI tercatat telah berganti kepengurusan dengan sekira 5 tokoh yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum. Periode pertama (1994-1997), Cynthia Guedolyn Sonneville terpilih menjadi Ketua Umum melalui Musyawarah Nasional (Munnas I) tahun 1994. Putri mantan pemain bulutangkis Indonesia, Ferdinand Alexander “Ferry” Sonneville ini pun dipercaya kembali pada periode 1997-2000.

Ketua Umum AREBI selanjutnya adalah Tirta Setiawan yang juga menjabat dua periode, sejak 2001-2009. Demikian halnya Darmadi Darmawangsa yang juga menjabat Ketua Umum sejak 2009-2015. Berikutnya adalah Hartono Sarwono yang menjabat Ketua Umum sejak 2015-2018.

Baca Juga: Triniti Rilis Facilitated Office Residence, Hampir Serupa dengan SOHO

Dalam gelaran Munas ke VIII di Tangerang Selatan, September 2018 lalu, Lukas Bong terpilih menjadi Ketua Umum AREBI periode 2018 hingga 2021. Berbagai tugas dan pekerjaan rumah masih harus dan akan terus dilakukan. Beberapa kegiatan rutin seperti training yang telah menghasilkan 4.158 lisensi, kemudian sertifikasi bagi para broker sudah sebanyak 1.569 lisensi.

Sejak tahun 1992 hingga saat ini, DPD AREBI baru ada di 14 provinsi yang tersebar di Pulau Jawa, Sumatera, Kepulauan Riau, Bali, Sulawesi dan Kalimantan. Asosiasi ini telah memiliki anggota sebanyak 1.171 perusahaan. Sebarannya, 80 persen berada di DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat.

“Kalau urutan terbanyak, DKI Jakarta, Banten, Surabaya baru Jawa Barat,” ungkapnya.

Soal penambahan jumlah DPD, Lukas melanjutkan, tahun ini ada penambahan dua DPD, yakni di Kalimantan Barat dan Sumatera Utara.

Baca Juga: 4 Tren Utama Membentuk Perilaku Konsumen Modern

“Jadi ini juga menjadi salah satu pekerjaan rumah kami untuk terus memperbanyak dan memperluas anggota asosiasi di seluruh Indonesia,” pungkasnya.

Salah satu kegiatan besar yang akan dilakukan AREBI dalam waktu dekat ini adalah The Biggest Real Estate Summit yang direncanakan di November mendatang. AREBI annual gathering ini akan diikuti seluruh anggota AREBI untuk berbagai kegiatan, seperti seminar, talkshow, dan lainnya.

1 COMMENT

Komentar